Romo Mudji Sutrisno SJ: Rosario Merah Putih, Energi Cinta bagi Indonesia

SHALOMJKT.COM — Sepanjang Bulan Juni ini, Komisi Sosial Keuskupan Agung Jakarta (KOMSOS KAJ) kembali mengajak umat Katolik di KAJ—dan tentu saja boleh diikuti oleh umat Katolik di mana saja—untuk melakukan Doa Rosario secara live streaming. Kali ini, Rosario yang didaraskan adalah Rosario Merah Putih—doa yang digagas oleh Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo beberapa tahun lalu.

Sungguh! Ini doa yang mengandung energi luar biasa dalam menyiram, memupuk dan menyiangi rasa cinta umat Katolik terhadap Tanah Air Indonesia ini. Kardinal juga sering mengatakan bahwa warisan sangat berharga dari para pendahulu sejak zaman sebelum kemerdekaan kepada umat Katolik adalah “rasa cinta Tanah Air”. Ini tepat sekali. Dan karenanya, rasa ini harus  selalu dijaga dan dibiakkan.

Pelaksanaan Rosario Merah Putih ini juga bisa disebut sebagai salah satu wujud membahasakan kesadaran 100% Katolik dan  100% Indonesia. Dan doa semacam ini sangat penting dihidupkan di tengah-tengah umat Katolik. Tidak bisa tidak, umat Katolik harus mencintai Iman, Bangsa dan Gerejanya.

Kesadaran bertransformasi yang diolah menjadi sikap hidup itu harus mewujud dalam laku hidup cinta negeri dan cinta Gereja dalam walk the talk. Atau dengan kata lain, spiritualitas altar yang dihayati dengan Salib dan risiko-risiko tanggungjawab sebagai orang Katolik sekaligus warga negara Indonesia, harus dikonkretkan dalam pasar kehidupan sehari-hari.

Sekarang ini tdak bisa lagi memisahkan antara berdoa dan bekerja, tetapi being religious in everyday life dalam profesi dan karya tempat panggilan hidup bersaksi dan mewartakan kebenaran dan kabar baik dari Tuhan.

Sejak pandemi covid-19, Tuhan mendidik kita untuk menyadari hadirnya Roh Kudus di “rumah nurani” kita, yang mesti dibaca kehadiranNya dalam tanda-tanda “zaman”. Lihatlah! Kita bisa melihat pertarungan antara Roh Kebenaran vs roh kebohongan atau hoax dalam masyarakat kita. Untuk ini, tentu saja kita dipanggil untuk mewartakan kebenaran dan kebaikan. Dan untuk ini pula, kita harus menjadi pribadi-pribadi yang cerdas budi dan fajar pikir.  Mari jaga daya kritis atau akal sehat, agar kita tidak mudah terperangkap dalam rimba raya yang cenderung menjebak.

Dalam daya kritis di bawah terang iman, kita saling meneguhkan agar tetap memiliki harapan di tengah kepungan pandemi. Dan roh kesetiakawanan menjadi pandu ibu pertiwi.

Maka laku Doa Rosario, utamanya menjadi hening doa, kita siap bersaksi di negeri ini tentang kebenaran dan saling bersolider bersama Bunda Maria yang setia menemani para rasul untuk sikap Fiat Voluntas Tua. Lihatlah! Bila berhadapan dengan tanda tanya kehendak Allah, Maria menyimpan wacana itu dan merenungkannya. Sikap Maria ini harus menjadi sikap kita juga. Per Mariam ad Iesum. Kita mesti menapaki Rosario panjang secara kontinu, meneladani laku iman dan doa yang dihayati dalam laku hidup berbangsa dan bernegara.

Kita perlu betul-betul menggarisbawahi kata kunci “laku doa memberi nyawa untuk laku hidup”.

Penulis: Romo FX Mudji Sutrisno SJ, adalah filsuf, rohaniwan dan budayawan

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *