Bersukacita dalam Kepedulian

Oleh Agustinus Agoes Handojo

Agustinus Handoyo

Dalam pembukaan Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa ini – salah satu dokumen dari Konsili Vatikan II, terungkap kalimat : Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita; merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Memang wajarlah pandangan Konsili Vatikan, bahwa nasib bangsa manusia di kemudian hari terletak di tangan mereka, yang secara khusus mampu mewariskan kepada generasi-generasi mendatang dasar-dasar untuk hidup dan berharap. Sebab memang pribadi manusia harus diselamatkan, dan masyarakatnya diperbaharui di tengah kondisi zaman kehidupan manusia yang semakin terpukau sekaligus menggelisahkan oleh karena rasa kagum akan penemuan-penemuan serta kekuasaannya sendiri yang terus berkembang pesat. Perkembangan itu menantang, bahkan memaksa manusia untuk menanggapinya.

Ingatlah bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk tujuan penuh kebahagiaan, melampaui batas-batas kemalangan di dunia. Allah menciptakan orang-orang bukan untuk hidup sendiri-sendiri, melainkan untuk membentuk persaruan sosial. Allah berkehendak menguduskan dan menyelamatkan orang-orang bukannya satu per satu, tanpa jalinan pola-pola hubungan satu dengan lainnya. Allah dalam kehendak-Nya yang bebas, membentuk manusia menjadi umat, mengakui-Nya dalam kebenaran dan mengabdi kepada-nya dengan kekudusan.

Persekutuan kita sebagai murid-murid Kristus yang dengan sertamerta telah menerima warta keselamatan-Nya, dan dalam naungan Kuasa Bimbingan Allah Roh Kudus sendiri berusaha mengungkapkan Cinta Kasih kepada semua orang; sehingga setiap kita, dalam anugerah-Nya telah menempatkan kita untuk secara erat berada bersama dengan umat manusia yang lain serta sejarahnya. Ini menuntut kesadaran kita sebagai anggota Tubuh Kristus, karena setiap kita perlu mengetahui makna baptisannya dalam satu Tubuh.

Dari persekutuan itulah, pribadi dan pelayanan Yesus diwujudkan. Kita tidak akan bisa memberikan Yesus Kristus kepada orang lain, tanpa pemberian diri-Nya sendiri kepada kita. Oleh sebab itulah, Gereja terus menawarkan daya-kekuatan pembawa keselamatan dengan cahaya Injil, yang dibawah bimbingan Roh Kudus diterima dari Pendirinya. Dan di bawah langit tidak diberikan kepada manusia nama lain, yang bagi mereka harus menjadi pokok keselamatan (Kis 4:12).

Gereja percaya, bahwa kunci, pusat dan tujuan seluruh sejarah manusia terdapat pada Tuhan dan Gurunya, yang dengan cara tertentu telah menyatukan Diri-Nya dengan setiap orang, merelakan diri-Nya menjadi anggota rukun hidup manusiawi. Dalam hal ini, Gereja mengimani, bahwa Kristus telah wafat dan bangkit bagi semua orang (2Kor 5:15). Kristus mengaruniakan kepada manusia terang dan kekuatan melalui Roh-Nya, supaya manusia mampu menanggapi panggilannya yang amat luhur. Berkat karya Yesus Kristus, rencana dan kegendak Allah disempurnakan dan dipenuhkan.

Digerakkan Oleh Roh Kudus

Kepedulian yang digerakkan Roh Kudus.

Pengalaman kita akan Allah (SHDRK), mendorong kita untuk terlibat dalam kegembiraan dan harapan, keprihatinan dan kecemasan sesama/dunia dan dalam terang Inkarnatif (Sabda menjadi manusia Yesus) memampukan kita untuk berjuang bagi kebaikan sesama (bdk Yoh 3:16). Di akhir SHDRK, kita diajak untuk menjadi serupa dengan Kristus. Bahwa kita sejak itulah semakin menyadari peranan Roh Kudus yang sedang berkarya dan memimpin kehidupan kita, untuk menjadikan setiap kita menjadi suci, kudus dan menuju kesempurnaan kristiani.

Kita mulai membuka diri untuk semakin penuh membiarkan Yesus mengubah karakter kita sepenuh-penuhnya. Kita mulai menjalin relasi secara pribadi dengan Dia setiap hari, sekaligus mengijinkan Dia untuk menunjukkan kepada kita kekurangan kita dan mengijinkan Dia untuk mengubah kita. Selanjutnya, dalam bimbingan Roh Kudus, kita dimampukan untuk bersama saudara yang lain saling membagikan pengalaman hidup barunya secara lebih penuh. Kita menyatakan momen tentang kemenangan Allah, suatu Kuasa baru dicurahkan dalam diri kita dalam menghadapi pergumulan dan tantangan hidup secara lebih kristiani.

Namun tidak sedikit orang yang lebih hidup kesadarannya untuk sepenuh-penuhnya berada dalam pengalaman akan kehadiran Allah. Masih lebih banyak kelompok, yang semakin menjauhkan diri dari pengalaman keagamaan. Semakin banyak himpunan manusia yang sama sekali tidak menyadari kondisi terjalinnya pola-pola hubungan kehidupan yang mesra dengan Allah atau tegas-tegas malah menolaknya.

Keuskupan Agung Jakarta mencanangkan tahun 2019 sebagai “Tahun Berhikmat”, yang merupakan tema kegiatan dan gerakan pastoral evangelisasi untuk mengamalkan Pancasila : Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat.  Hikmat adalah kearifan yang merupakan anugerah dari Allah. Kita diajak untuk menggapai hikmat (kearifan) dalam berbagai aspek kehidupan. Tentu saja gagasan tema ini bergerak ke arah kedalaman pribadi  yang semakin mandiri, masuk ke derah alam bawah sadar yang dalam. Berjalan di area yang ada hubungannya dengan mentalitas dengan penuh keyakinan.

Tujuan pencanangan tema ini adalah untuk mewujudkan panggilan kita bersama menuju “kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan kasih, kesucian yang sempurna”.

Diharapkan tema ini bisa membangkitkan semangat yang mendorong dan menggerakkan hidup rohani kita semua, terutama untuk secara personal menjadi pribadi-pribadi yang lebih mandiri, bermartabat dan semakin berhikmat (anugerah kearifan hidup).

Langkah Menuju Kepedulian

Tidak pernah bangsa manusia begitu berlimpah harta-kekayaan, kemungkinan-kemungkinan serta kekuatan ekonominya; akan tetapi sebagian masih amat besar penghuni dunia tersiksa karena kelaparan dan kekurangan, sekaligus muncul berjenis-jenis baru perbudakan sosial dan psikis. Karena terkena oleh sekian banyak situasi yang serba kompleks, banyak sekali sesama kita sekarang ini, yang masih terhalang untuk sungguh mengenali nilai-nilai yang lestari.

Allah, yang sebagai Bapa memelihara semua orang, menghendaki agar mereka semua merupakan satu keluarga, dan saling menghadapi dengan sikap persaudaraan, Dia menghendaki segenap bangsa manusia menyadari berasal dari satu asal mendiami seluruh muka bumi (Kis 17:26). Namun pada kenyataannya, di antara mereka sendiri masih terus terombang-ambing antara harapan dan kecemasan, bertanya-tanya tentang perkembangan dunia sekarang, dan tertekan oleh kegelisahan.

Begitulah bangsa manusia beralih dari pengertian tata dunia yang lebih statis kepada visi yang lebih dinamis dan bercorak evolusi, sekaligus mengundang analisa-analisa serta sintesa-sintesa baru. Pola masyarakat industri lambat laun makin menyebar, mengantar berbagai bangsa kepada kekayaan ekonomi, proses urbanisasi yang telah mengubah cara hidup banyak manusia. Maka semakin banyak yang dengan sangat mendesak menuntut harta dengan sekaligus mengabaikan keadilan dan pembagian sewajarnya karena menghalalkan segala cara dengan penuh ketamakan (KKN) tanpa batas pertobatan apa pun.

Perubahan sepesat itu, yang sering berlangsung secara tidak teratur, bahkan juga kesadaran semakin tajam akan perbedaan-perbedaan yang terdapat di dunia, menimbulkan atau malahan menambah pertentangan-pertentangan dan ketidak-seimbangan. Adapun dalam kehidupan keluarga muncullah berbagai ketidakserasian, karena faktor kesulitan menjalin relasi sosial yang baru antara pria dan wanita di tengah pelipat-gandaan pola-pola jalinan hubungan timbal-balik antar manusia dalam dunia maya. Itu semua ikut membangkitkan sikap saling tidak percaya dan bermusuhan, konflik-konflik dan kesengsaraan berkepanjangan. Dengan demikian, ketidak-seimbangan semakin berakar dalam hati manusia. Sebab dalam diri manusia sendiri pelbagai unsur saling berlawanan; menderita perpecahan dalam dirinya, tertindas oleh duka-derita.

Manusia mengalami keterbatasan dalam banyak hal, tetapi juga harus merasa diri tidak terbatas dalam keinginan-keinginannya demi suatu kehidupan yang lebih bermartabat. Menghadapi banyak hal yang serba menarik, manusia terus-menerus terpaksa memilih di antaranya dan melepaskan beberapa hal lainnya. Bahkan sebagai manusia lemah dan pendosa, manusia tidak jarang melakukan apa yang tidak dikehendakinya, dan tidak menjalankan apa yang sebenarnya ingin dilakukannnya (Rm 7:14-15). Rasul Paulus mengembangkan pemikirannya di sini (Rm 7:7-8:2) mengenai hubungan antara hukum Taurat dan dosa melalui dua keberatan diatribal tentang karakteristik manusia (Prosopopoiia) yang terjawab dalam 7:7a dan 7:13a. Setiap jawaban dikembangkan lebih lanjut dengan ayat-ayat yang mengikutinya.

Aku melihat yang lebih baik dan menyetujuinya, namun mengapa aku masih bersedia untuk mengikuti untuk melakukan tindakan yang lebih buruk ? Gagasan ini ditujukan kepada orang-orang bukan Yahudi yang perlu berjuang untuk mencapai  penguasaan diri dengan cara mentaati hukum Musa – terutama dalam kondisi bahwasannya umat manusia tidaklah mungkin bisa berubah pada saat hanya berhadapan dengan tata hukum Musa.  Hukum Musa yang adalah milik bangsa Yahudi, telah membuat mereka menjadi lebih dapat untuk mengendalikan dirinya, lebih mampu mengendalikan nafsu mereka yang tidak masuk akal dan dari segala kejahatan. Namun apa yang dipahami dalam umat kristiani ditemukan dalam 7:15 dan 7:19 – dua ayat yang serupa/sejajar dalam sudut pandang pemikiran Yunani. Inilah yang awalnya dipahami suatu kondisi keinginan untuk tari-tarian balas dendam, yang pada akhirnya karakter seseorang harus dikalahkan oleh kejahatannya sendiri. Kita menjadi merasa diri telah mempunyai hak untuk tidak memaafkan; bahkan kalau menurut keadilan. Biarlah mata diganti dengan mata, hihi diganti dengan gigi. Kita terus mempunyai alasan sedemikian yang dianggap telah tepat untuk mengukuhi rasa dendam yang telah kita miliki. Dalam cakrawala kekristenan, kondisi seperti itu sangatlah mengerikan – dimana segala yang direncanakan, sekaligus menghantarkannya pada nafsu mengalahkan akal sehat, dan inilah penyebab kejahatan yang paling mengerikan di tengah umat manusia (bdk Mat 5:38-39). Jadi ada kondisi yang tidak beres, yakni tidak adanya kesungguhan untuk terjadinya suatu perubahan, dan meraih tujuan untuk lebih baik dari kondisi diri sendiri; atau sebenarnya sudah ada niat mau berubah namun tidak mau atau belum bisa. Apa yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah mendorongnya untuk tetap berusaha. Selain daripada itu, setiap kita tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang kita kerjakan, melainkan juga oleh apa yang terjadi pada diri kita karena dosa orang lain dan kejahatan yang ada di dunia ini. Bahwasannya dosa memang sebenarnya tidak dikehendaki, namun terus saja melaklukannya dengan disertai tanpa penyesalan yang jujur dan tulus. Kecenderungannya itu hanya dapat diketahui sejauh apa yang diingatnya? Harapan apakah yang dimilikinya untuk berubah ? Apa yang dapat diberikan oleh Gereja sebagai bantuan yang sungguh-sungguh menolong ?

Kepekaan terhadap dosa yang bertentangan dengan keadilan perlu ditingkatka lagi;  dari pada jmaua sekedar mengakukan dosa-dosa yang merusak, yaitu dosa yang meninggalkan rasa sakit hati dan kepahitan, dosa-dosa yang langsung menghalangi pendamaian dengan sesama kita. Oleh sebab itulah, jika orang-orang bukan Yahudi tidak mampu untuk berpaling kepada hukum Musa demi pembebasan dari kuasa dosa-kematian-kedagingan; maka mereka yang menjadi Kristen dari golongan bukan Yahudi, harus bersyukur bisa berpaling hanya kepada Yesus Kristus.

Maka haruslah diakui, bahwa Tuhan tidak dapat memainkan biola yang pecah. Setiap pribadi kristiani dituntut untuk secara bijaksana semakin menjadi pribadi yang bermartabat dalam menumbuh-kembangkan kepekaan dirinya terhadap dosa yang dengan jelas-jelas bertentangan dengan keadilan daripada dengan dosa-dosa yang paling merusak, yaitu dosa yang meninggalkan rasa sakit hati dan kepahitan, dosa-dosa yang langsung menghalangi pendamaian penuh kasih persaudaraan dengan sesama kita.  Meskipun demikian, tetap ada banyak orang Kristiani yang baik – yang pecah atau tidak utuh. Bagaimana Tuhan dapat memakai mereka ?

Adapun kebebasan manusia seringkali melemah, bila ia jatuh ke dalam kemelaratan yang amat parah; kebebasan itu merosot, bila orang menuruti saja kemudahan-kemudahan hidup yang berlebihan, dan mengurung diri bagaikan dalam menara gading. Ada semacam perpecahan yang diderita manusia dalam  perjalanan mereka menuju keutuhan, tetapi sangatlah disayangkan bahwa ada banyak orang Kristiani yang pecah dengan cara yang merusak; setelah kondisinya pecah atau tidak utuh, maka mereka tidak dapat melalukan perintah Allah yang utama, yaitu mengasihi Allah dan sesama. Gejolak dalam batin mereka menghalangi mereka untuk melalukan kehendak Allah dan sungguh sangat ironis sekali kalau mereka pada kenyataannya masih mempertahankan keterpecahannya. Oleh sebab itulah, kondisi mereka  menjadi semakinb merasa tidak memerlukan lagi bantuan untuk pelepasan-pembebasan dari apa yang jelas-jelas Tuhan kehendaki dari hidup mereka.

Kebebasan manusia terluka oleh dosa; maka hanya berkat bantuan rahmat Allah mampu mewujudkan secara konkret/nyata arah-gerak hatinya kepada Allah. Kebebasan itu diteguhkan, bila orang menerima kebutuhan-kebutuhan hidup sosial yang tak terelakkan, menyanggupi bermacam-macam tuntutan solidaritas antar manusia, dan mengikat diri untuk berbelarasa mengabdi masyarakat.

Di lubuk hati nuraninya, manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri; melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Semakin besar pengaruh hati nurani yang cermat, semakin jauh pula pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok untuk menghindar dari kemauan yang membabi-buta, dan semakin mereka berusaha untuk mematuhi norma-norma kesusilaan yang obyektif. Sebab dalam hatinya, manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Berkat hati nurani dikenallah secara ajaib hukum, yang dilaksanakan dalam cinta kasih terhadap Allah dan terhadap sesama (Gal 5:14).

Sukacita dan Kepedulian

Peduli sesama di saat pandemi.

Fidei Laetitia adalah kata Latin yang diterjemahkan: “Sukacita Kristiani”, yakni kegembiraan-keriangan iman ~ yang dapat dikembangkan dengan nuansa yang lebih mendalam dari sekedar kegembiraan – kesenangan hati (Gladness); Joy-gladness (Gaudium) yang artinya kesukaan, keceriaan, yang muncul dari dalam diri (karakteristik, disposisi batin seseorang, persepsi diri), tidak dipengaruhi/ditentukan oleh situasi di luar diri.

“Sukacita” memberikan pengaruh terciptanya suatu perubahan pola gerak evangelisasi yang dilakukan Gereja sepanjang zaman. Allah memimpin kita dengan sukacita-Nya melalui keinginan-keinginan kita. Sentakanlah Sukacita yang telah memimpin kedalam lubuk hati kita, itulah suara Tuhan yang ada di dalam diri kita dan kita tidak perlu takut untuk mengikutinya.  Sukacita ini menjadi sangat diperlukan agar setiap umat kristiani menjadi lebih berhikmat dalam menunaikan tugas panggilannya – baik terhadap diri maupun terhadap pelbagai keterlibatan dalam kelompok basis yang diikutinya menuju tata gerak rohani yang lebih luas. Dalam hal ini, Gereja perlu semakin kritis dalam keterlibatannya menata pola kehidupan dunia termasuk perkara sosial-politik dalam wujud yang tampak (melalui kata dan tindakan keberadaan diri – self being), sesuatu yang bercorak eksistensial, ekspresional sekaligus lestari, nikmat senantiasa (bertahan lama, otentisitas perasaan langsung individu).

Pada semua orang perlu didorong kemauan untuk melibatkan diri dalam usaha-usaha bersama. Memang layak dipuji pola bertindak bangsa yang dengan ketulusan hati nuraninya mengamalkan Pancasila demi keterlibatannya dalam tata kenegaraan secara bertanggungjawab. Setiap warga negara, perlu terus bergairah untuk melibatkan diri dalam kehidupan pelbagai kelompok sampai menemukan nilai-nilai yang membangkitkan kepedulian melayani sesama secara tulus ikhlas.

“Kepedulian” yang dipilihnya, merupakan keputusan yang bebas dijatuhkannya atas sejumlah tawaran tanggapan diri yang diberikan kepadanya demi perjalanan hidupnya – bahkan tetap berada di dalamnya sekalipun situasinya terpuruk; karena ungkapan sukacita bisa berupa tangis kehidupan. Pola perkembangannya memuncak dalam rasa pengalaman akan percikan ilahi (keterpesonaan yang misterius) yang melampaui keberadaan tubuh jasmaniah karena perjumpaannya dengan Yang Ilahi dalam kondisi tertentu. Kepedulain adalah keputusan bebas kita untuk melayani orang-orang yang kelaparan atau hampir mati karena kelaparan. Kepedulian bukan direnungkan dan dipikirkan semata; melainkan perlu diwujudukan menjadi pengalaman pribadi. Sampai sesama kita menjadi tahu akan kasih Allah pada saat kita sedang mewujudkan kepedulian tersebut, dalam jalinan pola-pola satu dengan yang lain. Karena jika setiap kita telah menjadi milik Allah, sesama yang lain juga akan tahu bahwa mereka juga milik Allah, dimana dalam kepedulian kita sedang berada dalam pelayanan Allah yang menyelamatkan. Kepedulian adalah panggilan bagi kita untukl semakin nyata benar-benar terlibat dengan sesama melalui belas-kasih Allah. Jika kita masih takut, kalau-kalau tangan kita menjadi kotor; tidak usah melakukan kepedulian yang menyelamatkan.

ArDas KAJ 2016-2020 mengamanatkan perwujudan wajah Gereja sebagai persekutuan dan gerakan. Pada bagian ini, Gereja siap melibatkan semakin banyak elemen untuk berpartisipasi dan berkarya. Di tengah banyaknya talenta istimewa di tengah umat beriman, yang dengan pelbagai cara memberikan sumbangsih secara nyata dalam karya pelayanan, adalah karena terciptanya kerjasama egaliter – di mana semua orang terlibat sesuai kompetensinya.

Setiap kita mengambil-bagian bersama sesama lainnya untuk mencari kebenaran; dan untuk dalam kebenaran itu memecahkan sekian banyak persoalan moral, yang timbul baik dalam hidup perorangan maupun dalam hidup kemasyarakatan. Pencapaian kesadaran agar semakin bertanggungjawab bisa terwujud, apabila kondisi-kondisi hidup memungkinkannya, semakin tumbuh kesadaran akan martabatnya, dan semakin mampu untuk membaktikan diri kepada kehendak Allah dan sesama.

Kita masih bisa merasakan kedalaman akan kebersatuan serta saling ketergantungan satu dengan yang lain dalam berbelarasa, yang memang mesti ada dalam pola kehidupan negara kesatuan Republik Indonesia.  Apa yang kita saksikan bersama akhir-akhir ini, dasar negara Pancasila sedang menghadapi arus perpecahan yang amat gawat akibat kekuatan-kekuatan yang saling bermusuhan; terus berlangsung pertentangan-pertentangan yang sengit di bidang politik, kesenjangan sosial-ekonomi, kesukuan dan ideologi – termasuk bahaya peperangan yang akan dengan mudah menggempur habis-habisan segala sesuatu.

Spiritualitas Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik, semestinya akan menjadikan setiap pengalaman akan Kasih Allah, diwujud-nyatakan pengamalannya dalam tindakan kasih; ikut merasakan keprihatinan dan berbelarasa, menghibur-meringankan kedukaan-penderitaan orang lain dalam pelayanan.

Manusia hanya dapat berpaling kepada kebaikan untuk melayani, bila dirinya menyadari akan anugerah kebebasan Allah yang diberikan pada dirinya. Sebab Allah telah menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri (Sir 15:14), supaya dengan sukarela mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan. Maka martabat manusia menuntut, supaya dirinya bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, artinya : digerakkan dan didorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena rangsangan hati yang buta atau semata-mata karena paksaan dari luar mengejar tujuannya dengan secara bebas memilih apa yang baik, serta dengan tepat-guna dan jerih-payah yang tekun mengusahakan sarana-sarananya yang memadai.

 I can feel you – Apakah saya ini juga bisa merasakan sebuah kesedihan atau beban yang sedang dihadapi orang lain ? Apakah saya bisa berbelarasa kepada kondisi seseorang, terutama mereka yang sedang dalam keadaan terpuruk ? Sejauhmana saya akan berhenti setelah dapat merasakan kesedihan orang lain, tanpa harus melakukan sesuatu untuk mereka. Jadi “feel” doang. Action-nya belum tahu kapan akan dilakukan atau bahkan tidak ada aksi yang akan dilakukan…..

Bukan Hoak/Gosip saat seseorang dipersilahkan membagikan pengalaman mereka menolong bahkan menjadi pendamping bagi mereka yang mendapat perlakuan tidak adil. Pada saat mereka dengan bersemangat berbagi, saya terus mendengarkan dan sebuah pertanyaan muncul di dalam hati. “Hebat banget ya ada orang yang mau berjuang seperti itu?” Selama mendengar pengalaman itu saya merasa malu. Dan saya tahu sekali mengapa saya merasa malu. Semuanya karena satu alasan. Malas. “Feel” itu tidak perlu ada usaha yang dilakukan. Sementara aksi ada yang harus dilakukan. Nah, karena ada yang harus dilakukan dan itu pasti membutuhkan perhatian, tenaga dan dana; maka tiga hal itu membuat saya hanya memilih untuk merasakan penderitaan orang. menolongnya dalam bentuk aktivitas fisik secara berkesinambungan tidak sama sekali. Karena yaaa…. malas itu.

Saya hanya sebatas mendengar ceritanya dan terkagum-kagum atas apa yang diperbuatnya, bahkan di tengah kegiatan usahanya yang tak kalah sibuknya. Setelah mendengar lagi informasi yang senada hal apa yang sedang dilakukan oleh teman saya; saya hanya berkomentar begini: “Wah, kamu baik banget. Lain kali akau diajak, ya”. Sejujurnya komentar “lain kali aku diajak” itu sudah berulang kali saya tuliskan sebagai penutup percakapan yang membuat saya  merasa bersalah. Kalimat penutup itu memperlihatkan saya memiliki niat yang baik. Namun pada kenyataannya, sama sekali tak saya lakukan ketika ada tawaran untuk melakukan aksi sosial. Ternyata niat saja tidak cukup! Harus disertai dengan perbuatan.

Apa akibatnya kalau saya ini malas ?

Peduli terhadap yang kecil dan menderita. Tampak Suster Andre Lemmers menolong penderita bibir sumbing.

Saya tak memberi kesempatan orang lain untuk hidup lebih baik, untuk menemukan solusi atas situasi pelik yang mungkin dihadapi. Rasa malas itu telah mengakibatkan saya menutup kesempatan bagi orang lain untuk tertolong, untuk dimengerti, untuk mendapatkan perhatian, untuk memiliki teman beberapa jam untuk curhat dan bermain, untuk punya waktu merasakan bahwa hidup itu adil.

Berdasarkan rasa malas itu, saya memutuskan untuk melakukan aksi. “Berdoa” untuk mereka yang menghadapi masalah. Siapa pun mereka. Karena dengan melakukan aktivitas berdoa, saya tak harus ke mana-mana. Saya berpikir niat sudah ada, sekarang niat harus diterjemahkan ke dalam aksi. Maka aksi yang paling mudah tanpa membutuhkan tenaga, dana dan kelelahan adalah berdoa saja. Dan menurut otak saya yang jongkok ini, doa itu tak hanya bisa dilakukan di mana saja, tetapi dapat menjangkau manusia yang berada di mana pun. Dasar pemalas! Kalau doa dan ngomong doang, feel-feel doang itu mah gampang. Cobalah lihat, apa yang ada dalam diri mereka. Mereka melakukan aksi dengan tenaga mereka, dengan tangan mereka, dan dengan dana mereka. Mereka tuh enggak cuma ngomong I can feel you doang, tahu!”. Itu adalah suara nurani saya yang telah berhasil membuat saya tersinggung.

Apa Kehendak Tuhan

Dalam berpegang pada perintah Yesus yang memerintahkan dengan jelas, supaya para murid-Nya bertingkahlaku sebagai saudara satu terhadap lainnya. Dalam doa-Nya Ia meminta, supaya semua murid-Nya menjadi “satu”. Bahkan kematian-Nya di atas kayu salib menjadi tanda nyata – “tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). – Dan luapan diri yang dicintai tanpa batas membawa kita ke dalam hidup semakin tenang, teguh, tumpah ruah tercurahkan menjadi sukacita iman.

Sambil mengenangkan sabda Tuhan: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kalian itu murid-murid-Ku, yakni bila kalian saling mengasihi” (Yoh 13:35); umat Kristiani tidak dapat menginginkan apa pun lebih sungguh-sungguh, dari pada untuk mengabdikan diri secara makin penuh dan efektif kepada sesama di dunia masa kini. Maka, dengan tetap setia bertumpu pada Injil dan bersandar pada kekuatannya; dan bersama dengan semua orang yang mencintai dan melaksanakan keadilan, kita bersedia menyatakan diri untuk terus menjalankan karya agung di dunia ini, dan siap dipertanggungjawabkan di hadapan Dia, yang pada hari terakhir akan mengadili semua orang. Ingatlah, tidak semua orang yang berseru “Tuhan, Tuhan!” akan memasuki Kerajaan Sorga, tetapi hanya merekalah – yakni yang melaksanakan kehendak Bapa (Mat 7:21) dan dengan giat menyingsingkan lengan baju untuk mengalamkan hukum cinta kasih, kepedulian dengan penuh sukacita yang akan mendapatkan tem[at dalam pengalaman iman, harapan dan kasih itu sendiri.

Sukacita dan Kepedulian dalam berbelarasa selalu harus dikembangkan, hingga harinya akan mencapai kepenuhannya; bila kita yang diselamatkan berkat Rahmat, sebagai keluarga yang dicinta oleh Allah dan oleh Kristus Saudaranya, akan melambungkan kemuliaan sempurna kepada Allah –  maka, marilah Saudara-saudara….

Bapa menghendaki, agar dalam semua orang kita mengenali dan mencintai secara nyata Kristus Saudara kita, dengan kata-kata maupun tindakan; dan dengan demikian memberi kesaksian akan Kebenaran, serta menyiarkan kepada sesama misteri cinta kasih Bapa di Sorga. Kita pulihkan kepedulian sosial sebagai suatu pilihan perutusan yang harus ditandai dengan sukacita yang mampu mengubah segala sesuatunya dengan mengedepankan belarasa. Perdalam entusiasme Sukacita Kristiani karena pengalaman akan pembebasan secara mendalam, yang memungkinkan kita semakin peka berbelarasa terhadap kebutuhan orang lain; menjadi saksi tindakan keselamatan Allah dalam situasi kongkret, terus bersemangat mengkomunikasikan hidup kepada sesama. Dengan demikian, semua orang di seluruh dunia akan dibangkitkan untuk menaruh harapan yang hidup, yang merupakan karunia Roh Kudus, supaya akhirnya ditampung dalam damai dan kebahagiaan yang mulia, di tanah air yang bercahaya gemilang berkat kemuliaan Tuhan.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam umat beriman dan dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin” (Ef 3:20-21).

 

 

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *