MENGHAPUS AIR MATA

Oleh Romo Felix Supranto, SS.CC

Salah satu tugas kita dalam hidup ini adalah membantu untuk menghapus air mata sesama kita. Kita harus peka terhadap kebutuhan orang-orang di sekitar kita, seperti sahabat-sahabat kita, tetangga kita, dan rekan kerja kita.

Sering kali di balik senyuman manis dan ketawa bahagia terdapat seseorang yang sedang terluka. Ia sendirian. Hidupnya sedang kacau. Ketika seseorang sedang berjuang untuk mengatasi kekacauannya, kita hendaknya menjadi penyembuh. Kita mengambil waktu untuk menghapus air matanya.

Di tengah pandemi yang telah mengacaukan berbagai macam bidang dalam kehidupan ini, tugas kita bukan untuk mengadili. Tugas kita bukan untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tugas kita adalah mengangkat yang jatuh, memulihkan yang patah hati, dan menyembuhkan yang terluka.

Kita kadang-kadang terlalu sering hanya terfokus pada impian kita sendiri dan bagaimana kita bisa mendapatkan mukjizat. Akan tetapi, ada yang lebih penting daripada hal itu, yaitu bagaimana kita dapat menjadi mukjizat bagi sesama kita.

Kita perlu mengimani bahwa ada penyembuhan di tangan kita, ada penyembuhan di dalam suara kita. Semua itu telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Kita harus penuh dengan belaskasihan, pemulihan, dan penyembuhan. Di manapun kita harus menyalurkan kebajikan Allah.

Untuk dapat menjadi penyembuh, kita harus menyadari bahwa kita ini adalah orang-orang yang penuh kesalahan, tetapi mendapatkan belaskasihan dari Allah. Belaskasih Allah lebih besar daripada kesalahan yang kita buat. Pendek kata, kita sendiri telah mengalami luka yang telah disembuhkan oleh Allah.

Saya senang dengan kisah orang Samaria yang baik hati. Ketika sedang menaiki keledainya dan melihat seseorang yang tergeletak di pinggir jalan dengan kondisi hampir mati karena luka parah, orang Samaria itu meletakan orang yang sekarat itu di atas keledainya dan membawanya ke sebuah tempat di mana ia dapat disembuhkan. Yang menjadi tekanan di sini adalah orang Samaria itu mendekati orang yang terluka tersebut.

Menjadi penyembuh bagi sesama memerlukan pengorbanan. Kita mungkin harus kehilangan kesempatan makan malam bersama-sama sahabat dekat kita supaya dapat menghapus air mata sesama kita yang sedang terluka. Kita mungkin tidak mengambil kerja lembur agar dapat meneguhkan pasangan suami istri yang sedang berjuang untuk mempertahankan pernikahan mereka. Kalau kita ingin menjadi penyembuh, kita harus punya hati terhadap mereka yang terluka.

Salam tangguh !

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *