Rahmat Effendi Terima Penghargaan “Tokoh Toleransi 2020” pada Hari Toleransi Internasional

Oleh karena sikap toleransinya yang tinggi dan konkret, Walikota Bekasi Rahmat Effendi dijuluki  “Mentari Toleransi Indonesia dari Bekasi”

Bekasi, SHALOMJKT.COM – Bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional (16/11) Wali Kota Bekasi Dr Rahmat Effendi menerima Piagam Penghargaan sebagai “Tokoh Toleransi 2020” dari Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (Perwamki). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Emanuel Dapa Loka selaku Ketua Tim Seleksi dalam apel pagi bersama para ASN di lingkungan Kota Bekasi di Stadion Sepak Bola Chandrabaga, Kota Bekasi. Ikut mendampingi Pepen saat menerima penghargaan tersebut adalah Wakil Walikota Bekasi Dr H. Tri Adhianto Tjahyono dan beberapa tokohnya lainnya.

Perwamki menilai, Pepen, demikian sapaan akrab pria kelahiran 3 Februari 1964, telah dengan konkret menunjukkan sikap tolerannya dalam memimpin Kota Bekasi. Ia telah memberikan pelayanan yang adil kepada semua warganya.

Emanuel Dapa Loka menyebut keberanian Pepen memberikan IMB kepada sejumlah gereja di Bekasi sebagai contoh konkret sikap toleransi itu. “Bukan tanpa risiko ketika ia memberikan izin membangun gereja, tapi dia abaikan risiko dan melakukan perintah Undang-undang. Dia patuh pada konstitusi dan kebutuhan konkret rakyatnya,” ungkap wartawan yang juga penulis biografi ini.

 Penghargaan tersebut diadakan dalam rangka HUT ke-17 Perwamki dan diberikan kepada 17 tokoh dengan kategori masing-masing antara lain Alm Jakob Oetama (Tokoh Pers Inspiratif), drg. Aloysius Giyai (Tokoh Kesehatan), Setio Lelono (Tokoh Advokasi Gereja), Ruhul Ma’ani (Tokoh Muda Islam), Mayjend TNI dr. Albertus Budi Sulistyo (Dokter Kepresidenan) dan Dr. Stefanus Roy Rening (Tokoh Pemikir Hukum). Pemberian sebenarnya sudah dilakukan pada tanggal 10/11 di Hotel Aston Bellevue dalam “Malam Cinta bagi Negeri” bertajuk Berkarya dan Memberi yang Terbaik, namun Pepen berhalangan hadir.

Kepada SHALOMJKT.COM Pepen menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepadanya. Pepen berharap semangat untuk menumbuhkan dan merawat toleransi terpelihara dalam setiap orang Bekasi dan masyarakat Indonesia.

Rasnius Pasaribu, anggota DPRD Kota Bekasi yang hadir dalam kesempatan tersebut dan mendapat kehormatan mengalungkan selendang Perwamki mengatakan, Pepen sangat layak mendapatkan apreasiasi tersebut. Pepen kata Rasnius adalah pribadi yang tidak hanya basa-basi dalam toleransi. “Selamat kepada Pak Rahmat Effendi atas penghargaan ini, dan terima kasih telah menjadi teladan bagi warga Kota Bekasi dan rakyat Indonesia. Teruslah berkarya dalam memajukan Kota Bekasi dan peradaban yang bermartabat,” kata Rasnius sambil menyampaikan salam dan selamat dari Uskup Jakarta yang juga adalah Ketua KWI Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo atas penghargaan yang Pepen terima tersebut.

Catatan Toleransi Kota Bekasi

Pepen juga menerima buku berjudul “Pers Kristen dan Makna Kehadirannya” karya para wartawan Kristen.

Data survei Setara Institute pada tahun 2017 menempatkan Kota Bekasi pada urutan 53 dan DKI Jakarta di urutan 94 dalam Indeks Kota Toleran di Indonesi. Dalam survei yang sama pada dua tahun kemudian, Kota Bekasi sudah berada di peringkat ke-6. Atas kemajuan signifikan ini, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mendapatkan penghargaan dari Setara Institute.

Data tersebut menunjukkan bahwa menciptakan sikap toleran di antara masyarakat Bekasi membutuhkan kerja keras dan kerja sama berbagai pihak, terutama Pemerintah dengan berbagai stakeholder  di dalamnya.

Dalam situasi masyarakat semacam tersebut, gereja harus tetap berusaha melayani umatnya. Dan salah satu tantangan terbesar para pemimpin gereja dalam upaya membina umatnya adalah tidak mudahnya mendapatkan IMB pembangunan gereja. Aneka bukti telah menunjukkan itu. Bahwa akhirnya sejumlah gereja mendapatkan IMB, ini membutuhkan perjuangan yang menyedot banyak energi, pikiran, dan kesabaran dan perasaan. Betapa tidak dikatakan begitu? Bertahun-tahun berjuang, namun “seakan-akan” tanpa hasil. Gereja Santa Clara misalnya, harus menunggu 17 tahun. Berbagai demo penolakan mengiringi perjuangannya.

Untuk memberikan IMB dibutuhkan keberanian, semangat melayani tanpa sekat. Dan boleh dikatakan, keberhasilan beberapa gereja mendapatkan IMB di Bekasi sebagai kombinasi antara ketekunan panitia perizinan gereja, kebaikan masyarakat dan keberanian Walikota Pepen. (SJ/01)

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *