KELUARGA

Oleh Romo Albertus Herwanta, O. Carm

Masyarakat (negara dan dunia) bertahan dan tetap ada karena keluarga. Setiap keluarga yang kokoh dan sejahtera mengalir dari kasih-setia. Sumbernya adalah kasih sejati, Allah sendiri. Menimba kasih dari sumbernya itu mungkin dilakukan jika orang beriman kepada Allah. Kasih dan iman kepada Allah menjadi dasar, pegangan dan pilar utama keluarga.

Keluarga Abraham mengalami kesulitan besar, karena tidak memiliki keturunan. Fakta itu menggelisahkan Abraham dan membuat dia bergumul dalam iman. Berkat imannya Abraham dan Sara dianugerahi anak, Ishak yang menjadi ahli waris bagi Abraham (Kej 15:1-6).

Secara pemikiran manusia, Abraham dan Sara yang sudah lanjut usia tidak mungkin lagi memiliki keturunan. Namun hidup ini berjalan bukan atas rencana manusia. Kehidupan mengikuti kehendak Tuhan. Dari Abraham yang sudah mati pucuk terpancarlah keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai laut (Kej 21: 1-3; Ibr 11: 12). Karena iman Abraham memperoleh yang diharapkan dan dibenarkan (Ibr 11: 8. 11-12.17-19).

Demikian pula Yusuf dan Maria, kedua orangtua Yesus, adalah tokoh-tokoh iman. Hidup mereka dijalani dalam semangat mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan. Kehendak itu berpusat pada satu misi, yakni menyelamatkan umat manusia berdasar kasih-Nya yang tiada batas.

Di mana keluarga-keluarga menghayati iman sejati kepada Allah dan mewujudkan kasih-Nya, di sana kesejahteraan dan kebahagiaan dirasakan. Para anggotanya saling peduli, menolong dan mengasihi.

Semangat itu diperlukan keluarga-keluarga, baik dalam arti sempit sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat maupun dalam arti luas keluarga umat manusia. Sikap saling mengasihi, peduli dan berbagi tetap relevan kapan pun. Apalagi dalam masa pandemi ini.

Sikap menjaga diri dan sesama dari virus yang terus memakan korban diperlukan. Kini ketika vaksin sudah ditemukan, sikap peduli itu lebih diperlukan lagi. Orang tidak berjuang hidup hanya untuk diri sendiri sebagai manusia, melainkan untuk kemanusiaan.

Ajakan Paus Fransiskus untuk membagi vaksin kepada semua saudara, juga kepada mereka yang di negara miskin, mengingatkan bahwa masyarakat dunia adalah satu keluarga. Nasionalisme mesti ditempatkan di bawah kemanusiaan.

Semoga masyarakat dunia menghayati hidup sebagai satu keluarga yang beriman kepada Tuhan. Dialah yang menyatukan seluruh umat manusia dalam satu keluarga yang dipersatukan bukan oleh nasionalisme, agama atau orientasi politik, tetapi oleh kasih-Nya sendiri. Kasih itulah yang menyelamatkan umat manusia sebagai satu keluarga.

Hong Kong, 27 Desember 2020
Pesta Keluarga Kudus Nazaret

Facebook Comments

Default Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *